How to Write Dialogue in a Narrative Essay
Menguasai Dialog dalam Penulisan Naratif
Quick answer
Menulis dialog dalam esai naratif melibatkan keseimbangan antara ucapan realistis dengan aturan format yang ketat. Agar berhasil, Anda harus memberi tanda baca dengan benar, memulai paragraf baru untuk setiap pembicara, dan menggunakan tag pembicara untuk memperjelas siapa yang berbicara. Panduan ini mencakup mekanika penting dan pilihan gaya untuk membuat percakapan dalam esai Anda berdampak dan profesional.
Langkah 1: Pilih Percakapan yang Bermakna
Identifikasi momen penting dalam cerita Anda di mana ucapan diperlukan. Esai naratif tidak boleh menjadi transkrip sepanjang hari. Sebaliknya, gunakan dialog untuk mengungkapkan sifat karakter atau memajukan konflik. Jika sebuah percakapan tidak mengubah pemahaman pembaca tentang peristiwa tersebut, ringkaslah dalam prosa naratif. Tanyakan pada diri sendiri apakah dialog tersebut memberikan informasi yang tidak dapat diberikan oleh deskripsi sederhana. Dialog yang efektif berfokus pada interaksi dengan ketegangan tinggi atau emosi tinggi yang mendefinisikan tesis naratif Anda.
Langkah 2: Terapkan Aturan Tanda Baca
Lampirkan semua kata yang diucapkan dalam tanda kutip ganda. Aturan paling penting yang harus diingat adalah bahwa koma dan titik ditempatkan di dalam tanda kutip. Jika dialog diakhiri dengan tag pembicara, gunakan koma sebelum tanda kutip penutup. Jika dialog adalah kalimat lengkap yang tidak diikuti oleh tag, gunakan titik. Untuk pertanyaan, tempatkan tanda tanya di dalam tanda kutip jika karakter yang mengajukan pertanyaan, tetapi di luar jika Anda mengajukan pertanyaan tentang kutipan itu sendiri.
Langkah 3: Format Jeda Paragraf
Mulai paragraf baru setiap kali orang baru berbicara. Ini adalah aturan yang tidak dapat dinegosiasikan dalam format naratif. Bahkan jika seorang karakter hanya mengucapkan satu kata, mereka mendapatkan baris indentasi sendiri. Isyarat visual ini membantu pembaca mengikuti pertukaran tanpa memerlukan tag pembicara untuk setiap baris. Jika karakter yang sama berbicara untuk beberapa paragraf, jangan gunakan tanda kutip penutup di akhir paragraf pertama, tetapi gunakan tanda kutip pembuka di awal paragraf berikutnya.
Langkah 4: Gunakan Tag Pembicara dan Ketukan yang Efektif
Integrasikan tag pembicara seperti "katanya" atau "jawabnya" untuk memberikan kejelasan. Namun, hindari penggunaan kata kerja kompleks yang berlebihan seperti "teriak," "sela," atau "tanya." Kata "kata" seringkali merupakan pilihan terbaik karena hampir tidak terlihat oleh pembaca. Untuk menambah kedalaman, gunakan ketukan aksi - deskripsi kecil tentang gerakan fisik. Alih-alih menulis "Aku lelah, katanya," cobalah "Aku lelah." Dia menggosok matanya dan merosot ke kursi. Teknik ini menunjukkan kepada pembaca keadaan pikiran karakter daripada hanya memberi tahu mereka.
Contoh: Format Dialog dalam Praktik
"Aku rasa kita tidak boleh masuk ke sana," bisik Mark, tangannya gemetar saat meraih kenop pintu. [1] Sarah memutar matanya dan mendorong melewatinya. "Ini hanya ruang bawah tanah tua, Mark. Jangan jadi pengecut." [2] "Aku bukan pengecut," jawabnya. "Aku hanya berhati-hati." [3] Dia tidak menoleh ke belakang. "Hati-hati hanyalah kata lain untuk membosankan." [4] Anotasi: 1. Koma di dalam tanda kutip diikuti oleh tag pembicara huruf kecil. 2. Paragraf baru untuk pembicara baru. Ketukan aksi mendahului dialog. 3. Titik di dalam tanda kutip karena kalimat mengakhiri pemikiran karakter. 4. Tidak diperlukan tag di sini karena jeda paragraf dengan jelas menunjukkan Sarah yang berbicara.
Kesalahan Dialog Umum yang Harus Dihindari
- Dialog Mengambang: Hindari rangkaian ucapan panjang tanpa deskripsi fisik atau tag apa pun. Ini menyebabkan sindrom "kepala berbicara" di mana pembaca kehilangan jejak latar.
- Tanda Baca Berlebihan: Jangan pernah menempatkan titik sebelum tag pembicara. Gunakan koma. Salah: "Berhenti." katanya. Benar: "Berhenti," katanya.
- Tag Redundan: Jangan gunakan tag yang menjelaskan apa yang sudah ditunjukkan oleh tanda baca. Hindari: "Apakah kamu datang?" tanyanya dengan rasa ingin tahu. Tanda tanya sudah memberi tahu pembaca bahwa dia bertanya.
- Dialek Tidak Realistis: Jangan mencoba menulis aksen berat secara fonetis. Ini sering mengganggu dan dapat dianggap ofensif. Gunakan pilihan kata dan ritme untuk menyampaikan suara sebagai gantinya.